salam

Rabu, 03 Februari 2010

Rasulullah SAW Adalah Teladan Ummat

"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut (nama) Allah" (QS. Al-Ahzab :21)


Berdakwah sangat wajar dan logis jika meneladani Rasulullah SAW. Sebab, dakwah kita adalah Islam, agama haq yang diridhoi Allah untuk para hambaNya. Dan kita sebagai Muslim mendapat kehormatan untuk terlibat di dalamnya.

Rasulullah SAW adalah orang yang pertama kali menerapkan Islam secara total. Ia mendapat bimbingan dan pengarahan langsung dari Allah melalui wahyuNya. Maka, tidak ada seorangpun yang lebih mengetahui dan memahami Islam selain Rasulullah SAW. Karena itu beliaulah satu-satunya yang pantas menjadi teladan dan panutan orang-orang yang mengharap rahmat Allah pada hari akhir dan bagi mereka yang ingin melaksanakan kewajiban Islamnya dengan benar.

Mentaati dan meneladani Rasulullah SAW, sebenarnya adalah mentaati Allah dan beribadah kepadaNya. Dan mentaati serta beribadah kepada Allah dilakukan dengan jalan mentaati RasulNya. Karena segala apa yang dibawa dan diserukan Rasulullah SAW adalah pengarahan dan bimbingan Allah SWT.

"Dan tiadalah yang diucapkan itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)". (QS. An-Najm: 3-4)

Sangatlah tidak mungkin apabila seseorang beribadah dan melakukan aktivitas Islam tanpa mengikuti dan mencontoh apa yang telah Rasulullah SAW lakukan. Tidak ada satu aktivitas di dalam menjalankan kehidupan ini tanpa ada contoh dari Rasulullah SAW. Mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali semua diatur dan diberikan contohnya oleh Rasulullah SAW. Sehingga sangat aneh apabila ada orang yang mengingkari sunnah Rasulullah, untuk itu Rasulullah memberikan pernyataan yang sangat tegas yang tertuang di dalam hadistnya :

Dari Abu Hurairah Ra bahwa Rasulullah SAW bersabda : "Semua ummatku akan masuk surga, kecuali yang membangkang ". Sahabat bertanya : " Siapa yang membangkang wahai Rasulullah ?" Beliau menjawab : "Yang mentaatiku akan masuk surga, dan yang bermaksiat kepadaku berarti ia telah membangkang" (HR. Bukhari)

Para sahabat Rasulullah SAW benar-benar memahami makna peneladanan mereka kepada Rasulullah, baik dalam ucapan, perbuatan ataupun dalam ketentuan yang harus mereka ikuti. Kemudian mereka menghafal dan meriwayatkannya kedapa generasi sesudah mereka, sampai pada generasi kita sekarang ini.

Dalam sunnah Rasulullah terdapat petunjuk dalam berbagai persoalan agama dan dunia : tentang ibadah, muamalah, akhlaq dan tatakrama, akhlaq bepergian dan bermukim, akhlaq berdiam diri di masjid dan di rumah, tentang perang dan damai, hutang piutang dan perjanjian serta persoalan-persoalan lain yang dapat dibaca dalam buku-buku sirah dan sunnah.

Para sahabat tersebut dalam memperhatikan perintah agama sama dengan perhatian Rasulullah dalam mengajari ummat Islam tentang persoalan agama agar keadaan mereka tetap baik seperti yang diharapkannya. Sehingga mereka berani bertanya kepada Rasulullah SAW dan memohon penjelasan tentang segala sesuatu yang belum jelas dalam pemahaman mereka. Semoga Allah memberikan balasan atas jasa-jasa Rasulullah SAW dan para sahabatnya terhadap ummat Islam.

Keseriusan para sahabat dalam mengikuti sunnah Rasulullah patut menjadi contoh bagi kita generasi sekarang ini, kadang-kadang sulit untuk dipahami oleh mereka tentang sunnah tersebut tetapi karena itu dicontohkan oleh Rasulullah SAW, mereka tetap berusaha mengikutinya. Seperti yang diucapkan oleh Umar bin Khatab Ra. Dalam sebuah keterangannya : Abis bin Rabi'ah berkata, "Aku menyaksikan Umar bin Khatab Ra mencium hajar aswad dan berkata :

" Aku tahu bahwa engkau adalah sebuah batu yang tidak dapat memberi manfaat dan madarat. Kalaulah bukan karena aku menyaksikan Rasulullah SAW menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu".

Pengaruh Mengikuti Sunnah dalam Masyarakat Islam

Mengikuti Sunnah Rasulullah SAW dalam seluruh aspek kehidupan menjadikan kita selalu dalam kesadaran diri, peka dan berdisiplin. Sebab kita sangat mengutamakan petunjuk Rasulullah SAW yang harus diikuti, sesuai dengan seruan Rasulullah SAW dalam setiap kesempatan dan situasi. Dengan demikian seluruh persoalan yang kita amalkan tunduk kepada pengawasan nurani kita dan tidak mengerjakan sesuatu amal secara sembrono tanpa didukung oleh kesadaran dan pemikiran. Ini adalah persoalan yang sangat fungsional dalam kehidupan pribadi dan prilaku Muslim.

Demikian pula, ummat Islam dalam mengikuti sunnah Rasulullah SAW menimbulkan manfaat sosial yang besar. Sebab, adanya perbedaan iklim dan karakter di masyarakat menjadikan adat istiadat mereka beragam. Ini, jika dibiarkan berkembang akan berubah menjadi faktor pendorong timbulnya perselisihan tajam dikalangan ummat Islam. Tetapi Islam yang hanif ini menyelaraskan pribadi-pribadi dalam lingkungan sosial dengan cara menbentuk adat istiadat dan watak yang hampir sama, meski kondisi sosial dan ekonomi mereka berbeda. Sehingga setiap pribadi Muslim seakan-akan menjadi batu bata yang dicetak dengan cetakan khusus, serasi, seirama dan saling kait mengait dengan saudara-saudaranya. Jadi hanya adat istiadat yang diajarkan sunnahlah yang menjadi acuan mereka.

Mengikuti sunnah akan menimbulkan rasa keistimewaan, kemerdekaan, kepribadian dan keterikatan ummat terhadap Islam, sehingga kehidupan dan adat istiadatnya tidak mau mengikuti tradisi Timur dan Barat.

Orang yang ragu terhadap sunnah bertanya, "Bukankah keiltizaman (konsistensi) mengikuti sunnah Rasulullah SAW dalam seluruh aspek kehidupan merupakan pengekangan terhadap kemerdekaan seseorang dalam pembentukan kepribadiannya?"

Pertanyaan tersebut jelas menunjukkan pendapat yang salah. Sebab, kemerdekaan hakiki terletak pada keiltizaman kita terhadap pandangan hidup Islam. Allah lah yang menciptakan kita. Dia mengetahui yang terbaik bagi kita. Dia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sedangkan Rasulullah SAW telah menerapkan Islam dalam kehidupan nyata. Dan Allah memerintahkan mengikuti dan meneladaninya.

Meneladani Rasulullah SAW akan mengangkat derajat seseorang dalam hal iman, taqwa dan akhlaq. Dan akan melahirkan pribadi-pribadi Muslim teladan, baik aqidah, ibadah, akhlaq, pola fikir dan jasmaninya.

Meneladani Rasulullah SAW Secara Total

Setiap Muslim harus bersungguh-sungguh dan total dalam meneladani Rasulullah SAW. Ia tidak boleh meneladani dalam beberapa aspek dan mengingkari aspek lainnya. Para da'i yang berjuang di medan da'wah, terutama yang berada di barisan terdepan dalam amal Islami dan berjuang menegakkan agama Allah, serta bersentuhan langsung dengan obyek da'wah harus lebih serius, integral dan total dalam meneladani Rasulullah SAW. Sebab, mereka merupakan qudwah bagi orang-orang yang dida'wahi. Mereka juga harus lebih mengenal petunjuk dan sunnah Rasulullah SAW dalam segala aspek kehidupannya, seperti hal-hal yang berhubungan dengan Rabbnya, baik berupa shalat, tahajud, dzikir, khauf dan taqarrub kepadaNya. Juga dalam keuletan berdakwah, ketahanannya dalam menanggung derita di jalan da'wah, kehidupan suami isteri, hubungan baik dengan keluarga, berpegang teguh kepada Islam dan tidak meremehkan walaupun dalam hal-hal kecil, anjuran terhadap akhuwah dan kasih sayang sesama Muslim, melarang menggunjing dan lain-lain.

Seorang Muslim harus juga mencontoh Rasulullah SAW dalam sikap dan sifatnya, seperti kasih sayang, lemah lembut, pemaaf, menahan amarah, tidak membenci diri sendiri, bermusyawarah dengan sesama Muslim, bertawakal kepada Allah, berjihad, berani, jiwa kependekaran di medan tempur dan semacamnya.

Jadi semua hal yang merupakan sunnah Rasulullah SAW harus senantiasa diupayakan untuk dilaksanakan sesuai dengan tata cara dan aturan yang juga Rasulullah SAW ajarkan, bukankah kita sudah diperingatkan oleh Rasulullah SAW bahwa :

" Barang siapa yang mengada-ada sesuatu yang tidak ada pada sunnahku, maka ia tertolak " (HR. Muttafaq'alaihi)

12 Rabiul awwal adalah peringatan hari lahirnya Rasulullah SAW yang bertepatan dengan tanggal 25 Mei 2002. Momentum ini bisa kita jadikan titik tolak dan sebagai awal untuk berusaha semaksimal mungkin dalam melaksanakan sunnah-sunnah Rasulullah SAW. Agar kita tercatat sebagai pengikut Rasulullah SAW, yang mudah-mudahan kita bisa mendapatkan syafaat dari Rasulullah SAW di akherat nanti. Amin. Wallahu A'lam Bi Shawab. (Mushthafa Masyhur)


Buletin Jumat TAKAFUL No.9 Th 2002





Read MorE...

Meraih Sukses Dunia Akhirat

Setiap Pribadi berakal didunia ini, pasti ingin sukses. Apa pun latar belakang dan ideology seseorang, kesuksesan selalu menjadi mimpi kita semua. Namun yang tak boleh dilupakan spirit ideologi ini tentu saja akan sangat mempengaruhi asumsi mengenai arti sukses dan kesuksesan, serta cara seseorang untuk menggapainya.


Ibarat lomba lari, spirit ideologis ini adalah bahan bakar yang menentukan sekuat dan sedigdaya apa daya tahan seseorang untuk berlari. Makin tinggi target dan spirit ideologis yang dimiliki seseorang, niscaya makin kuat pula fighting spirit (semangat tanding) yang ia miliki. Seseorang yang memasang target untuk berlari sejauh seratus ribu kilometer, misalnya, tentu tak akan merasa lelah ketika berlari puluhan ribu kilometer. Namun bagi yang targetnya Cuma seribu kilometer, pasti ia akan cepat merasa lelah saat baru saja berlari ratusan meter.

Itu sebabnya dalam ajaran agama kita Islam, cita-cita tertinggi seorang Muslim haruslah keridhaan Allah SWT. Puncak kesuksesan sejati seorang muslim salah satu tandanya adalah ketika Allah SWT berkenan memanggil dan menjuluki mereka sebagai, “nafsul muthmainnah” . Allah SWT berfirman, “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha lagi diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba- hambaKu, dan masuklah kedalam surgaKu” (QS. Al Fajr; 27-30).

Dalam konteks kesuksesan ini, Imam Syafi’I ra pernah membagi kategori manusia. Pertama adalah manusia yang tak sukses didunia, juga diakhirat (syaqiyyun fiddunya wa syaqiyyun fil akhirah). Kedua, sengsara didunia, bahagia di akhirat (syaqiyyun fiddunya wa saidun fil akhirah). Ketiga, bahagia didunia, sengsara di akhirat (saidun fiddunya syaqiyyun fil akhirah). Dan keempat, bahagia didunia dan di akhirat (saidun fiddunya wa saidun fil akhirah).

Sebagai seorang mukmin sejati, kita tentu selalu berikhtiar agar kategori yang keempat ini yang jadi piagam kita. Jika itu target kita, tentu saja sekuat tenaga kita harus bisa mengenal seluruh potensi duniawi dan ukhrawi kita. Potensi duniawi itu menyangkut bakat, minat, kemampuan dan seluruh kapasitas cipta, rasa dan karsa yang kita miliki. Semacam analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, and Treath) untuk mendapatkan secara obyektif gambaran kekuatan dan kelemahan diri secara utuh.

Untuk mencapai hal itu, langkah-langkah berikut ini ada baiknya diperhatikan :

1. Rumuskan tujuan hidup Anda dengan detil, lalu bekerjalah serius untuk mewujudkannya.

2. Temukan peta obyektif skill, bakat serta minat yang jadi kekuatan anda. Atas dasar itu, komitmenlah bekerja untuk mengembangkan kepribadian.

3. Bekerjalah tekun dalam berbagai bidang yang anda geluti.

4. Jangan menunda pekerjaan hari ini pada esok hari. Selesaikan setiap pekerjaan tepat waktu.

5. Jauhi sikap santai dan berleha-leha. Ingat, waktu adalah inti hidup itu sendiri. Maksimalkan untuk sesuatu yang diridhaiNya.

6. Hindari malas, jenuh dan bosan. Jaga terus stamina dan konsistensi anda.

7. Temukan hakikat dan rahasia kehidupan. Sebab hidup dan sukses punya kaidah sendiri.

8. Ambil manfaat maksimal dari pengalaman orang lain. Terutama pengalaman orang-orang besar dan mereka yang sukses dalam hidupnya. Sesungguhnya dalam setiap pengalaman selalu ada ilmu yang baru.

9. Hindari hal remeh-temeh yang tak perlu. Fokuskan selalu pikiran dan konsentrasi pada hal-hal besar dan idealisme serta cita-cita anda yang tinggi.

10. Berpikirlah masak-masak sebelum berbuat dan bertindak. Jangan sebaliknya, bertindak dulu baru berpikir.

11. Hiduplah dimasa depan. Jangan terjebak masa lalu. Buat program dan perencanaan yang matang demi masa depan yang cerah.

12. Saling tolong menolong dan bekerja samalah dengan orang lain. Sebab kita tak hidup sendiri dan tak mungkin berjuang sendiri. Ingat, tolong menolong adalah inti kebersamaan.

13. Jaga kondisi kesehatan anda. Kesehatan lebih berharga daripada emas.

14. Berusaha selalu untuk memotivasi diri sendiri secara mandiri. Jangan menunggu motivasi orang lain.

15. Tak perlu berpanjang angan-angan. Sebab meskipun malam beringsut pergi hari ini, matahari masih terbit esok hari.

16. Ketahui dengan jelas skala prioritas hidup anda, lalu bekerjalah mengikuti prioritas itu.

17. Tak perlu marah-marah. Berusahalah untuk selalu bersikap tenang ketika berinteraksi dengan orang lain.

18. Hiasilah diri anda dengan ketabahan yang utuh dan idealisme tinggi. Ketahuilah, jalan kesuksesan itu penuh onak dan duri.

Perlu diingat, semua langkah taktis itu tak akan banyak berguna jika tak diikuti kekuatan ruhiyah (spiritual) yang maksimal. Karena itu, kita harus berupaya untuk mengendalikan hawa nafsu dan syahwat dalam diri sekuat tenaga. Kedepankan selalu nurani, akal sehat dan pikiran yang jernih. Selain itu, berpegang teguh dan sandarkan seluruh urusan kepada Allah SWT semata.

Inilah kiat-kiat yang telah diamalkan generasi awal umat ini. Merekalah generasi khairul quruun yang disegani kawan dan lawan. Kesuksesan generasi pilihan ini, sebagaimana digambarkan sejarah, adalah hasil dari kelengkapan dan keutuhan kepribadian yang handal. Merekalah ruhbaanum fillail fursaanun finnahaar, bagaikan rahib ditengah malam, pejuang di siang hari. Sebuah perpaduan yang apik antara kekuatan spiritual dan profesionalisme, yang pada gilirannya mampu memancarkan kepribadian yang mempesona sejarah peradaban manusia.

Tak heran jika dari rahim peradaban ini lahir para professional tangguh diberbagai bidang kehidupan. Dibidang hukum ada sosok Ali bin Abi Thalib dan Syuraih. Dibidang administrasi lahir Abu Ubaidah. Dalam soal intelijen lahir Hudzaifah. Dari bidang bahasa muncul Hassan bin Tsabit dan Zaid bin Tsabit.

Akhirnya, keberhasilan dan kegagalan seseorang itu sesungguhnya sangat bergantung pada kegigihan, kedisplinan dan kekuatan karakternya, yang didukung rahmat, karunia dan petunjuk Allah SWT. Setelah semua ikhtiar yang maksimal itu, kita boleh berharap bahwa Allah SWT mengabulkan segenap usaha kita untuk sukses dunia dan akhirat. Allah berfirman, “Dan bahwa seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An Najm; 39).

Wallahu a’alam. (M Adnan Firdaus)





Read MorE...

Antara Nasyid dan Alqur'an

Mudzakarah

Tak ada syair yang seindah Al Qur’an karena ia dibuat dengan kalam ALLAH swt. Seindah apapun bait kata dalam nasyid yang ditujukan untuk menggugah ghirah seorang muslim, namun sungguh tak dapat menyaingi ghirah yang ditimbulkan karena melantunkan ayat-ayat ALLAH..., Al-Qur’an.

Di zaman ini..,begitu banyak nasyid yang didendangkan oleh kaum muslimin. Dari nasyid perjuangan, cinta illahi hingga samara. Dari nasyid yang bermusik bombastis hingga hanya syairnya saja. Semua itu ditujukan untuk menghibur hati… namun sudah seharusnya bagi orang-orang beriman.., hiburan tertinggi untuk mereka adalah Al Qur’an karena Al Qur’an dapat menjadi penawar bagi hati yang sedang sakit.

“Dan, Kami turunkan Al Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. “ (QS.Al Isra : 82 )

Nasyid digunakan sebagai alat untuk berda’wah dan juga hiburan. Tidak ada salahnya bernasyid, namun terkadang kita terlalu berlebihan dalam bernasyid. Lihatlah…, mengapakah hafalan nasyid kita lebih banyak dari hafalan Al Qur’an? Mengapakah intensitas mendengar nasyid kita lebih banyak ketimbang mendengar Al Qur’an? Kita sering menyanyikan nasyid…namun sedikit sekali melantunkan Al Qur’an.

Kita dapat dengan bangga menyanyikan nasyid “ Tekad” dari Izzis, misalnya, namun jarang dengan ghirah tinggi melantunkan surat Al Anfal. Kita sering dapat menitikkan air mata dan tertegun bila mendengar nasyid bernada sendu seperti “ Taubat” dari Ar Royyan, namun jarang sekali kita menitikkan air mata kala melantunkan QS. Al Baqarah: 284-286…

Ya Rabbi.. ampunilah kami jika kami bersalah dan tidak tergetar hati kami ketika di sebut asma-MU…

Astaghfirullah…

pengirimi : jundullah


www.MyQuran.com






Read MorE...

Selasa, 02 Februari 2010

PASANG IKLAN DISINI, Di Blog ini

Buat semuanya , bagi yang pengen pasang iklan di blog ini lebih lanjut hubungi Vya_yovy@yahoo.co.id

atau hubngin fb vya_yovy@yahoo.co.id
jangan yang lain disini aja...hehehehehe
bneran anda dapat pasang iklan disini, info lbh lnjut hubngi email di atas,,,makasih
Read MorE...

Menjadi Pemimpin Yang Dicintai

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar
Publikasi : 26/5/2005
Saudaraku yang budiman, karena sifat takabur begitu buruk sehingga Allah SWT menggolongkan ahli takabur "Laa yadkhulil djannah man kaana fi qolbihi mitsqola dzarrotin min … ". "Tidak akan masuk surga orang yang didalam hatinya terdapat takabur walau sebesar biji dzarroh". Jika ingin selamat dan mulia maka kita harus tahu apa yang membuat kita mulia dan selamat. Berkaitan dengan keinginan kita memiliki seorang pemimpin yang dapat memimpin bangsa ini menjadi lebih baik, maka kita perlu pemimpin yang memiliki Kriteria Pemimpin 5 T ABC yaitu :

T Pertama adalah Tauladan
Keteladanan merupakan salah satu pilar utama yang tercermin pada sikap yang tidak menyuruh orang sebelum mengerjakan hal itu sendiri serta tidak melarang orang lain sebelum melarang dirinya sendiri. Seorang pemimpin dipastikan akan jatuh ketika tidak ada kesamaan antara perkataan dan perbuatan

T Kedua adalah Tawadhu
Tawadhu merupakan sifat yang berlawanan dengan sifat takabur.

T Ketiga adalah Telaten
Seorang pemimpin pada dasarnya adalah Qodimuhum : Pelayan. Ketelatenan merupakan ciri orang yang dapat memimpin dengan baik.

T Keempat adalah Tanggungjawab
Kehormatan seorang pemimpin adalah keberaniannya untuk berada di barisan depan dalam memikul tanggung jawab.

T Kelima adalah Teguh pendirian, Konsisten Atau Istikomah
Pemimpin yang senang berubah pendirian tidak akan dapat memimpin dengan baik.

Sedangkan ABC adalah :

A dari kata Adil

Dia tidak akan pernah berpihak baik kepada keluarga, kelompok atau partai melainkan hanya berpihak kepada kebenaran.

B dari kata Bijak

Orang yang bijak adalah orang yang dapat mengambil sikap yang paling utama diantara yang terbaik. Kata kata yang bijak adalah kata kata yang utama diantara kata kata yang baik. Oleh karena itu, orang tidak akan menjadi bijak kecuali yang terbiasa dengan bersikap, berkata, atau berpikiran terbaik. Disamping itu seorang pemimpin yang baik akan selalu berusaha melakukan yang terbaik maka dia akan dapat menjadi orang yang bijak.Sebaliknya orang yang terbiasa dengan pikiran, perilaku dan perkataan yang kotor maka dia tidak akan dapat bersikap bijak.

C dari kata Cinta

Pemimpin sejati dapat memotivasi atau membuat orang terggerak dari dalam dirinya disamping dicintai oleh pengikutnya. Cinta pengikut yang berimbang antara perasaan dan akal. Kalau pemimpin dicintai berdasarkan emosi maka ketika akalnya melihat maka akan turun kecintaan kepercayaannya terhadap pemimpin tersebut. Hal ini akan membuat orang mendoakan orang yang dicintainya tersebut, karena telah berhasil memotivasi untuk bergerak dan berprestasi. Pemimpin yang dibutuhkan di Indonesia adalah pemimpin yang dicintai. Cinta tidak dapat dipaksa. Cinta tidak akan diperoleh dengan menggunakan bom atau tentara.

Cinta masyarakat hanya ada kalau pemimpin bersikap adil dan bijak terhadap permasalahan yang ada. Jika perlakuan yang diberikan semena-mena maka sebanyak apapun senjata tidak akan membuat aman diri kita karena senjata, karena kekerasan tidak bisa menimbulkan cinta malah sebaliknya akan menimbulkan benci.

Ciri lain dari Pemimpin yang baik adalah dia harus dapat mengendalikan dirinya, pikiran, kata kata maupun sikap. Karena tidak mungkin mengendalikan orang lain tanpa dapat mengendalikan dirinya sendiri. Salah satu ciri orang yang dapat mengendalikan dirinya adalah tawadhu atau rendah hati yang merupakan lawan kata dari takabur atau sombong.

Jangan melihat orang lain lebih rendah dari kita. Belajarlah menyuruh dengan kata terbaik, ketika orang tidak mau mengatakan maaf atau terima kasih itulah tanda tanda adanya kesombongan orang tersebut. Marilah kita berlatih untuk menghormati orang lain, menyikapi orang lain dengan sikap terbaik sehingga orang tidak merasa direndahkan oleh kita. Itulah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Wallahu a’lam.




www.cybermq.com
O a s e .::. Konsultasi .::. Mudzakaroh
Manajemen Qolbu .::. Muslimah .::. Sastra .::. Hikmah
Ruqyah .::. Tauhid .::. Ilmu Waris


kritik dan saran : rifki@pajak.go.id atau key_key@rikpamail


Read MorE...

Sign in Twitter

Twitter

Sign in to Twitter

If you’ve been using Twitter from your phone, click here and we’ll get you signed up on the web.

Create Your Account

Already using Twitter
from your phone? Click here.

Sign In Facebook

Welcome to Facebook

iklan

Support Palestine